Bahtera Nuh Ditemukan

Hanya Dekat Allah Saja Aku Tenang

Dalam Mazmur ini terdapat rahasia hidup tenang. Kata tenang disini dalam teks aslinya dumah (NIV.My soul finds rest in God). Kata ini dapat di terjemahkan silent (tenang), ibarat lautan tidak bergelombang. Ketenangan disini bukan berarti ketenangan hidup tanpa masalah. Dalam Pasal ini ditunjukkan pemazmur dalam pergumulan (ay.4-5). Ia sedang dalam ancaman. Namun jiwanya teduh/tenang (Band.Maz.27:1-3). Sebagai anak Tuhan kita harus belajar memiliki suasana jiwa seperti ini, sebab yang dikehendaki orang pada umumnya hidup tanpa masalah. Pada hal selama manusia masih hidup di atas planet bumi ini tidak akan pernah bebas dari persoalan. Di tengah-tengah pergumulan jiwanya tenang dan tidak goyah. Suasana jiwa yang tidak terpengaruhi oleh kondisi hidup disekitar kita menunjukkan kedewasaan rohaninya. Untuk itu ada beberapa hal yang harus kita pelajari dari mazmur 62. 1. Dekat Tuhan saja (NIV.alone). Dekat disini menunjuk keintiman yang benar. Keintiman yang dibangun melalui persekutuan pribadi terus menerus dengan Tuhan. Oleh sebab itu setiap kita harus tekun membangun keintiman dengan Tuhan. Keintiman inilah yang akan membangun keyakinan kita terhadap Tuhan yang hidup dan riil. Tuhan yang tidak kelihatan harus dialami melalui pengalaman nyata . Ternyata keyakinan kita terhadap “kenyataan” adanya Tuhan perlu waktu. Itulah sebabnya banyak orang yang tidak memilikikeyakinan tentang “kenyataan” adanya Tuhan sebab mereka tidak bergaul intim dengan Tuhan di tahun-tahun hidupnya. Pengalaman rohani seseorang tidak boleh hanya terbatas pengalaman liturgi atau tatacara ibadah di gereja. Tetapi sepanjang perjalanan hidupnya adalah perjalanan pertumbuhan pengalamannya dengan Tuhan. 2. Tidak memperhitungkan sesuatu atau seseorang sebagai tumpuan harapan, kecuali Tuhan (perhatikan kata “hanya” ay.2,3,6,7 NIV&NIV: He alone). Jangan ada padaMu Tuhan lain sebenarnya panggilan untuk memperlakukan Tuhan sebagai satu-satunya Tuhan yang diandalkan (karenanya kalau seseorang mengharapkan pertolongan sumber lain ia melanggar hukum ini). Daud pada waktu terjepit di masa mudanya “menguatkan percayanya kepada Tuhan”. (1Sam 30:6). Kita harus berani tidakmemberi tempat bagi yang lain, untuk tempat yang hanya diisi oleh Tuhan. Dalam hal ini kita belajar berani menanti pertolongan Tuhan. Belajar tunduk pada jadwalNya. Kegagalan seseorang mempercayai Tuhan secara sepenuh adalah tidak kesediaannya mengikuti atau tunduk kepada waktu Tuhan atau pengaturanNya. 3. Mencurahkan isi hati kepada Tuhan (ay.9) Kita harus belajar tidak mudah minta pertolongan manusia. Kita harus belajar mencurahkan isi hati kita kepada Tuhan. Jemaat harus dilatih untuk mandiri. Tidak terus menerus bergantung kepada pendeta atau hamba Tuhan. Hamba Tuhan jangan memberi kesan seolah-olah jemaat tidak bisa menghampiri Tuhan tanpa perantara pendeta. Godaan seperti ini sering muncul dalam diri pelayan Tuhan, yang pada dasarnya ambisi untuk dikultuskan. Terhadap orang Kristen baru bisa dimengerti yaitu kalau mereka masih mengkultuskan dan bergantung kepada pendeta tetapi kalau Kristen yang sudah lama harus belajar bertemu dengan Tuhan secara pribadi. Dalam hal ini dibutuhkan keyakinan kita akan Tuhan Percaya kepadaNya setiap waktu (ay.9) artinya tetap konsisiten dan stabil dalam mempercayai Tuhan dalam segala keadaan disetiap waktu. Yang dipercayai dalam hal ini adalah pribadi Tuhan Manusia bisa mengecewakan tetapi Tuhan tidak akan pernah mengecewakan kita. Karenanya belajar bergantung kepada Tuhan bukan pada pendeta. Jemaat harus dididik mandiri. 4. Tidak berupaya dengan cara yang salah dalam mengatasi masalah (ay.11). Jangan tergoda menggunakan sembarang cara untuk menyelesaikan masalah. Untuk ini kita percaya bahwa kuasa datangnya dari Tuhan saja (ay.12). Dalam menghadapi segala masalah harus tetap memandang Tuhan untuk menemukan kehendakNya, yaitu jalan apa yang harus kita tempuh. Percaya kepada pemerasan menunjuk kepada upaya yang tidak sesuai kehendak Tuhan guna mengatasi masalah ( ay.11).

From : Rehobot Online

Mengatasi Pencobaan Dengan Bijaksana

I Korintus 10:12-13
Sebagai orang percaya, kita kadang mendengar informasi yang keliru tentang pencobaan. Sebagai contoh, banyak orang percaya bahwa merasa tergoda adalah berdosa, padahal Yesus dicobai Iblis di padang gurun (Matius 4:1). Jika Tuhan tetap melakukan hal yang benar setelah digoda melakukan hal yang salah, maka pencobaan itu bukanlah dosa. Kita harus berjaga-jaga melawan pikiran-pikiran salah yang dapat mengganggu kemampuan untuk tetap kuat.Kebenaran tentang pencobaan adalah bahwa pencobaan merupakan suatu bujukan untuk mengambil keinginan-keinginan yang diberikan oleh Tuhan melebihi batasan-batasan yang diberikan-Nya. Kita merasakan tarikan dari dalam diri yang berdosa, untuk berbuat dan memikirkan hal-hal tak bermoral. Kita tidak akan pernah terlalu dewasa atau terlalu rohani sehingga dapat mengendurkan kewaspadaan. Iblis akan selalu mencoba menggunakan kelemahan dan ego kita.Pencobaan didasarkan pada fantasi, yaitu kemampuan untuk menikmati sesuatu yang ingin dimiliki atau lakukan, tanpa melakukan tindakan nyata. Kita berkata pada diri sendiri bahwa tidak apa hanya berpikir selama tidak bertindak. Namun kala kita membiarkan diri terhanyut dalam pikiran menggoda tersebut, maka pikiran akan terhubung dengan emosi dan menghasilkan suatu keinginan. Keinginan bertumbuh sampai pada keputusan untuk melakukan sesuatu. Pencobaan dimulai dari hal kecil dengan dalih "sekali tidak akan menyakiti": Sekali minum. Sekali bohong. Sekali ciuman. Masalahnya, sekali kita menyerah, dosa akan semakin besar dan menuntut sampai menjadi gaya hidup.