Bahtera Nuh Ditemukan

Awasi Ucapan Anda

"Awasi mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku" (Mazmur 141:3)

Adakah dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah bersalah dalam ucapan kita? Jujur saja, jika kita mau menghitung, terlalu banyak kita mengucapkan kata-kata yang tidak benar. Yang lebih mengerikan adalah ketika seringkali kita tidak mampu menguasai perkataan pada saat mengalami pencobaan! Bukankah kita lebih banyak mengumpat daripada mengucap syukur?

Mengerti betapa sukarnya menguasai lidah, tidak heran jika dalam doanya Daud memohon agar Tuhan mengawasi mulutnya dan menjaga pintu bibirnya. Di saat-saat seperti itu Daud sangat menyadari bahwa manusia akan mudah sekali untuk jatuh dalam dosa karena perkataan. Ia tidak menginginkan ada kata-kata mengeluh, menggerutu karena persoalan yang ia hadapi. Jadi jika ia meminta Tuhan untuk mengawasi dan menjaga perkataannya, karena ia ingin tetap mengucap syukur dan memuji Allah sekalipun dalam pencobaan yang berat.

Belajarlah juga dari Ayub bagaimana ia menjaga lidahnya tetap bersih dihadapan Tuhan. Sekalipun dicobai dengan sangat berat, tetapi kata-kata yang diucapkan adalah: "Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan!" Bahkan saat istrinya menyuruhnya mengutuki Tuhan, ia tetap berkata, "Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah tetapi tidak mau menerima yang buruk? Dan Firman Tuhan menulis: Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. Ayub 2:10. Bukankah ini sebuah pelajaran yang indah? Bagaimana dengan hidup kita? Perlu disadari bahwa kita sangat membutuhkan pertolongan Tuhan untuk selalu mengawasi perkataan kita. Belajarlah untuk tidak menyalahkan Tuhan oleh karena pencobaan yang kita alami, tetapi biar Tuhan mendapati kita sebagai orang yang tidak berdosa dalam perkataan kita.

Jika kita sedang dalam pencobaan, ucapkanlah perkataan-perkataan yang positif

Mengatasi Pencobaan Dengan Bijaksana

I Korintus 10:12-13
Sebagai orang percaya, kita kadang mendengar informasi yang keliru tentang pencobaan. Sebagai contoh, banyak orang percaya bahwa merasa tergoda adalah berdosa, padahal Yesus dicobai Iblis di padang gurun (Matius 4:1). Jika Tuhan tetap melakukan hal yang benar setelah digoda melakukan hal yang salah, maka pencobaan itu bukanlah dosa. Kita harus berjaga-jaga melawan pikiran-pikiran salah yang dapat mengganggu kemampuan untuk tetap kuat.Kebenaran tentang pencobaan adalah bahwa pencobaan merupakan suatu bujukan untuk mengambil keinginan-keinginan yang diberikan oleh Tuhan melebihi batasan-batasan yang diberikan-Nya. Kita merasakan tarikan dari dalam diri yang berdosa, untuk berbuat dan memikirkan hal-hal tak bermoral. Kita tidak akan pernah terlalu dewasa atau terlalu rohani sehingga dapat mengendurkan kewaspadaan. Iblis akan selalu mencoba menggunakan kelemahan dan ego kita.Pencobaan didasarkan pada fantasi, yaitu kemampuan untuk menikmati sesuatu yang ingin dimiliki atau lakukan, tanpa melakukan tindakan nyata. Kita berkata pada diri sendiri bahwa tidak apa hanya berpikir selama tidak bertindak. Namun kala kita membiarkan diri terhanyut dalam pikiran menggoda tersebut, maka pikiran akan terhubung dengan emosi dan menghasilkan suatu keinginan. Keinginan bertumbuh sampai pada keputusan untuk melakukan sesuatu. Pencobaan dimulai dari hal kecil dengan dalih "sekali tidak akan menyakiti": Sekali minum. Sekali bohong. Sekali ciuman. Masalahnya, sekali kita menyerah, dosa akan semakin besar dan menuntut sampai menjadi gaya hidup.