Adakah dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah bersalah dalam ucapan kita? Jujur saja, jika kita mau menghitung, terlalu banyak kita mengucapkan kata-kata yang tidak benar. Yang lebih mengerikan adalah ketika seringkali kita tidak mampu menguasai perkataan pada saat mengalami pencobaan! Bukankah kita lebih banyak mengumpat daripada mengucap syukur?
Mengerti betapa sukarnya menguasai lidah, tidak heran jika dalam doanya Daud memohon agar Tuhan mengawasi mulutnya dan menjaga pintu bibirnya. Di saat-saat seperti itu Daud sangat menyadari bahwa manusia akan mudah sekali untuk jatuh dalam dosa karena perkataan. Ia tidak menginginkan ada kata-kata mengeluh, menggerutu karena persoalan yang ia hadapi. Jadi jika ia meminta Tuhan untuk mengawasi dan menjaga perkataannya, karena ia ingin tetap mengucap syukur dan memuji Allah sekalipun dalam pencobaan yang berat.
Belajarlah juga dari Ayub bagaimana ia menjaga lidahnya tetap bersih dihadapan Tuhan. Sekalipun dicobai dengan sangat berat, tetapi kata-kata yang diucapkan adalah: "Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan!" Bahkan saat istrinya menyuruhnya mengutuki Tuhan, ia tetap berkata, "Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah tetapi tidak mau menerima yang buruk? Dan Firman Tuhan menulis: Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. Ayub 2:10. Bukankah ini sebuah pelajaran yang indah? Bagaimana dengan hidup kita? Perlu disadari bahwa kita sangat membutuhkan pertolongan Tuhan untuk selalu mengawasi perkataan kita. Belajarlah untuk tidak menyalahkan Tuhan oleh karena pencobaan yang kita alami, tetapi biar Tuhan mendapati kita sebagai orang yang tidak berdosa dalam perkataan kita.
Jika kita sedang dalam pencobaan, ucapkanlah perkataan-perkataan yang positif
Mengerti betapa sukarnya menguasai lidah, tidak heran jika dalam doanya Daud memohon agar Tuhan mengawasi mulutnya dan menjaga pintu bibirnya. Di saat-saat seperti itu Daud sangat menyadari bahwa manusia akan mudah sekali untuk jatuh dalam dosa karena perkataan. Ia tidak menginginkan ada kata-kata mengeluh, menggerutu karena persoalan yang ia hadapi. Jadi jika ia meminta Tuhan untuk mengawasi dan menjaga perkataannya, karena ia ingin tetap mengucap syukur dan memuji Allah sekalipun dalam pencobaan yang berat.
Belajarlah juga dari Ayub bagaimana ia menjaga lidahnya tetap bersih dihadapan Tuhan. Sekalipun dicobai dengan sangat berat, tetapi kata-kata yang diucapkan adalah: "Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan!" Bahkan saat istrinya menyuruhnya mengutuki Tuhan, ia tetap berkata, "Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah tetapi tidak mau menerima yang buruk? Dan Firman Tuhan menulis: Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. Ayub 2:10. Bukankah ini sebuah pelajaran yang indah? Bagaimana dengan hidup kita? Perlu disadari bahwa kita sangat membutuhkan pertolongan Tuhan untuk selalu mengawasi perkataan kita. Belajarlah untuk tidak menyalahkan Tuhan oleh karena pencobaan yang kita alami, tetapi biar Tuhan mendapati kita sebagai orang yang tidak berdosa dalam perkataan kita.